[SPECIAL PROJECT] FOOLS

Mungkin emang nggak rame, tapi beginilah aku :’)

-o0o-

FOOLS

B-23XIwWkAANzFF

-o0o-

 

Hari ini aku lagi-lagi melihatnya. Ia tengah duduk di bangku dan bercanda tawa dengan teman-teman sebangkunya. Masih menopang dagu, aku mendengus kesal. Oh, ayolah! Hati ini terus menerus melayangkan protes pada semua sikapku akhir-akhir ini. Sepasang netraku mengalihkan pandangan, kali ini menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Benar-benar memprihatinkan, seperti orang bodoh. Ah, apa, sih, yang sedang aku pikirkan?!

 

Entah sudah berapa kali sejak seminggu ini aku selalu menghabiskan jam istirahat dengan tertidur di atas buku tambahan ujian akhir. Sekedar memejamkan mata, menikmati belaian lembut angin walau tipis. Membayangkan tentangnya menyapaku dengan manis, duduk di sebelahku, berbagi bekal makanan, bercanda tawa, saling melengkapi satu sama lain.. Ah! Apa, sih, yang barusan!?!!

 

“Ada apa, Kim Soomi?” Ujar seseorang, membuatku menoleh.

Aku menggeleng, “Tidak ada apa-apa.” sambil tersenyum kecil. Ah, temanku yang satu ini memang sangat baik hati! Tahu saat-saat di mana diriku sedang tidak normal.

“Laki-laki itu lagi?” Senyum itu menghilang, berganti dengan tatapan sendu yang–sepertinya–sangat menyedihkan sembari kepalaku mengangguk. Awalnya dia hanya tersenyum prihatin, kemudian menepuk pundakku pelan. Hal itu membuatku membenamkan wajah di atas meja, lelah.

 

Ah, Tuhan! Kenapa mengungkapkan rasa suka pada seseorang begitu rumit?!?!!

 

~

 

“Hey, Soomi!” Jimin mengangkat salah satu telapak tangannya di udara, membuatku menyambutnya dengan senang.

“Hey, ada apa?” Tanyaku semangat. Dia hanya tersenyum dalam diam sambil menyeret sebuah bangku terdekat ke sebelah mejaku lalu duduk di atasnya.

“Ah, aku sedang bingung..” Ujarnya lemah kemudian, membuatku mengangkat alis. Tak mengerti maksud ucapannya.

“Hmm..aku,, tengah menyukai seseorang..” Ucapnya gegelapan, hampir membuat tubuhku melompat dari bangku. Kali ini aku membulatkan mata, kemudian mengerutkan alis. “Oh, siapa..?”

Dia terlihat menggigit bibir bawah dengan ragu, “Mm..tentu saja rahasia!”

 

“Cih~! Kalau begitu kenapa kau mengungkapkannya? Dasar aneh..” Aku menatapnya bingung, sementara dia hanya tertawa kecil.

“Apa kau mau mendengar ceritaku tentangnya?” Dia bertanya dengan hati-hati dan dengan tegas aku menjawab, “Aku?”

Dia terlihat sedikit gugup, “Kau teman yang baik. Kau pasti tahu, kan, Taehyung itu seperti burung yang berkicau dan Sungjae..”

“Ya,, ya… Terserah kau sajalah..” Aku memotong ucapannya sembari memutar bola mata malas. Dia terlihat sumringah sambil merapatkan posisinya lebih dekat, membuatku kembali menatapnya aneh.

 

“Gadis itu cantik dan baik. Dia juga memiliki sifat yang jarang dimiliki oleh orang lain. Ia sering beranggapan bahwa berbeda dari yang lain itu bukanlah sebuah kekurangan.” Jimin berujar sambil tersenyum penuh arti. Matanya berbinar, membuatku hampir tak sanggup menahan air mata.

“Ah, teorinya membingungkan..” Komentarku dengan suara agak parau. Namun ia malah terlihat sedih, “Tapi, aku belum mau mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya..”

“Kenapa? Takut ditolak? Ah, payah! Gunakan langkah demi langkah. Jika kau sudah dekat dengan gadis itu, jauhi dia. Biarkan dia penasaran ada apa denganmu. Lalu saat dia mulai mencari tahu tentangmu, dia telah terjebak oleh situasi; her falls for you. Lalu kau tinggal mengatakan langsung padanya!”

Dia tersenyum, bibirnya perlahan berucap, “Terimakasih.”

Sementara aku hanya tersenyum kikuk.

 

Bodoh.

 

~

 

Aku mengeluarkan payung lipatku dari tas ransel, kemudian membukanya dengan cepat dan perlahan berjalan menghindari kubangan. Padahal hanya gerimis sedang, tapi cukup membuat tasku basah. Awalnya, aku hanya berjalan seperti biasa. Namun, entah kenapa sekolah di bawah guyuran hujan terasa lebih menakutkan, membuatku setengah berlari menuju halte.

 

Pulang sore memang menyebalkan. Tugas kelompok yang menumpuk membuatku terpaksa memutuskan untuk menyatukan beberapa di antaranya dalam satu hari. Dan sialnya, karena aku adalah ketua kelompok, terpaksa aku menjadi orang yang pulang paling akhir. Huh! Sudah pulang terakhir, sendirian di tengah hujan pula! Batin ini terus menyerukan kekesalannya dengan gamblang, tak tenang.

 

Ketika gerimis mulai menipis, sebuah suara langkah kaki membuatku sontak kaget dan menoleh. Dan sesaat setelahnya sukses membuatku terpaku. Seorang Park Jimin yang tengah memainkan sebuah bola basket, masih tak menyadari intensitas-ku. Ah, aku lupa kalau hari ini tim basket ada latihan di sekolah. Aku kemudian mengalihkan pandangan, tak ingin terus menerus terpaku pada objek yang sama seharian ini. Kurasakan dia melihat ke arahku, membuatku membuang muka, tak ingin memulai percakapan–dengan kata lain; menunggunya bicara lebih dulu.

 

“Hai.”

 

Aku menoleh, dan belum sempat kalimatnya berlanjut netraku beralih pada sebuah bis yang baru saja datang–yang telah lama kutunggu. Aku hanya menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan. Dengan santai aku melewatinya dan memasuki bis, duduk di tempat favoritku–bangku paling belakang dekat jendela. Dari jendela aku meliriknya sebentar, dia terlihat menatapku bingung. Kami hanya bertatapan dalam diam sampai bis perlahan melaju meninggalkan halte sekolah.

 

Entahlah, akhir-akhir ini dia menghindariku. Atau mungkin, dia sedang sibuk dengan gadis yang tengah diincarnya. Aku melupakan satu hal, kalau laki-laki mempunyai satu kebiasaan menyebalkan; saat mengejar wanita mereka mudah melupakan temannya. Mengingat hal itu membuatku menghembuskan napas panjang.  Ah, sudahlah! Aku tidak boleh peduli padanya lagi!

 

Bodoh.

 

~

 

Hari ini Raeyoung terlihat aneh. Mondar-mandir kesana-kemari, menggaruk kepalanya yang tak gatal dan sesekali melirik ke arahku dengan ragu. Membuat dahiku berkerut, aku membuka percakapan, “Raeyoung-ah, ada apa?”

 

Awalnya dia hanya menggeleng lemah, namun tak lama ia mendekat. Duduk di sebelahku, menatapku berbinar dengan penuh arti. Dia menghela napas panjang, “Bodoh.”

“Apa?” Tanyaku tak mengerti. Dia kemudian bersedekap sambil menggelengkan kepalanya. Menatap penampilanku–mungkin–dari kepala hingga ujung kaki sambil menyumpahiku dengan ‘bodoh’. Sungguh, aku benar-benar tak mengerti! Apa teman baikku ini salah minum obat? Aku tidak yakin orang pintar sepertinya bisa berubah drastis seperti ini.

 

“Hey, berhentilah. Aku tidak bodoh.” Kataku memotong sumpah serapah ‘bodoh’-nya.

Mendengar itu hanya membuatnya memicingkan mata, “Besok sepulang sekolah datanglah ke taman belakang. Jangan tanya alasannya, kau tidak akan mati!”

Dengan ajakan sekaligus ancaman tersebut ia berlalu pergi, menyisakan tanda tanya besar dalam diriku.

Ada apa sebenarnya?

 

Bodoh.

 

~ – ~

 

Aku mengikuti arah pandangannya, kemudian mengumpat dalam hati, sialan. Dia melirikku sebentar, kemudian melangkah begitu saja. Meninggalkan rangkaian kata yang menghilang tertiup hembusan angin. Dan ketika ia menatapku kosong dari jendela, aku hanya balik menatapnya bingung.

 

Bis itu perlahan bergerak menjauh, membuatku menurunkan pandangan sambil menatap ujung sepatu kets yang kotor. Kenapa jadi rumit begini!!? Batin ini berseru sembari kaki kiriku menendang kerikil-kerikil kecil tak  bersalah. Aku mengacak-acak rambut frustasi dan membuangkan bola basket itu ke sembarang arah. Persetan dengan apa yang akan terjadi nanti, aku memilih duduk bersandar dan menghela napas panjang. Memejamkan mata, mencoba menikmati rintikan gerimis yang perlahan menghilang.

 

Bodoh.

 

~

 

Sepasang  manusia itu terlihat kesal, sementara aku hanya menatap mereka kosong. Mata mereka memicing, mungkin mencoba menerka apa yang terjadi padaku. Persetan dengan semua itu, aku bersuara dengan malas, “Apa?”

 

“Dasar bodoh!” Taehyung menatapku sembari bersedekap. Tangan kanannya masih memegang handuk kecil yang kemudian ia sematkan ke leher. Sementara aku menatapnya heran bercampur bingung. “Ha?”

Mereka kemudian saling bertatapan satu sama lain. Berkomunikasi lewat mata–mungkin–entahlah. Sampai akhirnya berakhir dan Raeyoung membuka suara, “Tidak ada waktu lagi. Mengakulah, jangan biarkan dia terlalu lama menunggu. Jika kau tidak mau kehilangan kesempatan..”

 

“Tapi,, jika dia menolakku?”

 

Sepasang insan itu kembali bertatapan lagi, kemudian setelahnya menatapku dengan kasihan. Mereka mengangkat kedua bahu bersamaan, membuatku menghembuskan napas kasar dan menundukkan pandangan. Agak lama sampai otak bodohku ini memerintahku untuk bicara,

 

“Baiklah. Lusa di taman belakang sepulang sekolah.”

 

Bodoh.

 

~ – ~

 

Semua orang tampak berbeda hari ini. Maksudnya..uhm, terlihat lebih baik dari biasanya. Tapi mata mereka memandangku aneh, membuat dahiku berkerut. “Ada apa, sih?” Tanyaku gamblang pada Raeyoung. Yang ditanya hanya mengangkat bahu, masih tanpa mengalihkan fokus dari buku pemantapan ujian akhirnya. Membuatku menghapus rasa penasaran dan ikut membuka buku yang sama dengan malas. Membaca kata demi kata dengan konsentrasi penuh.

 

“Ah, ya. Park Jimin..”

 

Suara serak Raeyoung yang membuka percakapan membuatku sontak menoleh. “Ha?”

Dia menatapku dengan tatapan itu lagi. Tatapan bingung dan ragu yang dilihatku kemarin. “Ah, tidak..” Ia kembali membaca buku di hadapannya, masih tak tenang.

“Jimin, kenapa?” Tanyaku serius. Dia terlihat gegelapan, menggaruk kepala yang tak gatal dan sesekali mengalihkan pandangan.

 

“Aku kenapa?”

 

Mendengar suara yang tak asing itu membuatku menoleh. Mataku meliriknya dengan tajam dan sesaat setelahnya kembali berfokus pada buku di hadapan. Mengabaikannya? Tentu saja. Kenapa? Dia tiba-tiba masuk dalam percakapan orang lain, itu namanya tidak sopan. Alasan lain? Hmm..mungkin ada sebagian–

 

“Hm..maaf sebelumnya. Tapi aku tadi berbicara tentang Park Jimin kelas sebelah..” Suara gemetar Raeyoung membuat Jimin semakin menatapku dengan tajam. Sementara aku tetap diam, mencoba untuk tidak melirik ke arahnya, lagi. Mencoba membaca dengan konsentrasi tulisan di hadapan walau nihil.

 

Dan setelah detik-detik menegangkan itu berubah menjadi menit, sepasang kaki indahnya melangkah menjauh. Meninggalkan luka yang perih dalam hati..

 

Bodoh!

 

~

 

Bel pulang sekolah berbunyi, tanda berakhirnya jam pelajaran di hari yang panjang nan melelahkan ini. Aku segera membereskan alat tulis yang tercecer di atas meja dan melangkah pergi. Baru kaki ini hendak melangkah, Myungsoo, si ketua murid yang dikenal pintar dan cukup terpandang itu tiba-tiba berdiri di depan kelas. Membuat langkahku sukses tertahan.

 

“Teman-teman, kalian tidak lupa, kan, kalau hari ini aku mengadakan pesta di taman belakang sekolah?!”

 

Semua anak bersorak riang, kecuali aku yang mengerutkan dahi. Pesta? Tapi..kenapa? Dan dari bangkunya, Seunghee, si pacar ketua murid–yang mengaku menjadi asistennya alias wakil ketua murid–menjawab pertanyaanku, “Ya, dalam rangka prestasinya yang telah memenangkan kompetisi cerdas cermat se-Provinsi. Benar, kan, sayang?”

 

Hoek, bolehkah aku muntah sekarang? Cara Seunghee memanggil Myungsoo dengan sebutan ‘sayang’ itu membuatku jijik. Ditambah setelahnya wanita itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Myungsoo, membuatku bertambah mual. Dengan lantang aku berseru, “Aku tidak ikut. Terimakasih..”

 

Baru dua langkah kaki ini beranjak, beberapa tangan menahan tasku dan sukses membuat tubuh kecilku tertarik ke belakang. “YAK!!!” Aku menoleh, tampak si kembar Jo–Yongmin&Kwangmin–yang merupakan dalang di baliknya. “Kau mau ke mana? Tidak ada acara tidak ikut, kita semua tidak pernah makan besar bersama-sama. Jadi jangan coba-coba mengacaukannya!” Seru Kwangmin sembari mereka menarikku keluar. Dan diikuti oleh Myungsoo yang bersorak ‘Ayo!’ pada semuanya.

 

Ah, sial!

 

~

[TO BE CONTINUED]

Janji bakal selesai-in cerita ini kurang dari 3 bulan. Berhubung kelas IX lagi mau US + UN, fighting!!^^

-syalala94, 08 Januari 2016 – 25 Maret 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s